Kapitalisme Vs Ekonomi Syari’ah: Ambisi Tuhan Menggugat Manusia

Oleh: Fajar Chaniago

       
Kang Fajar


Pada kisaran tahun 1997-1998 Indonesia mulai mabuk dalam kontes ekonomi global menyebabkan berbagai guncangan di berbagai bidang. Kurs rupiah mulai merosot tajam akibat dari utang kepada IMF yang jatuh tempo. Ketidakberdayaan pemerintah dalam menyelesaikan masalah menjadi kunci amukan gelombang mahasiswa pada 21 Mei 1998.

          Kesalahannyaadalah utang Indonesia kepada IMF dalam jangka pendek, kapitalisasi global menyebabkan rezim orba menundukan kepala. Kapitalisme bank dunia telah benar-benar mencekik bangsa yang –masih- lemah dalam struktur ekonomi: seperti Indonesia.

          Akan tetapi, label reformasi demokrasi dan kebebasan di berbagai bidang-setelah runtuhnya rezim keluarga Cendana-bukanlah sebuah solusi demi tatanan ekonomi yang baru. Alih-alih kebebasan menjadi sebuah kata sakti untuk mengamalkan substansi dari Liberalisme. Seperti: isu-isu HAM, kebebasan berpendapat, hingga pasar bebas. Justru menjadi lahan subur bagi kaum borjuis kapitalis yang berimbas tidak hanya pada ekonomi, tapi juga pada rapuhnya fundamen  kehidupan bernegara.

          Liberalisme -telah menyatu dengan pemerintah dan koleganya- membangun sebuah tatanan ekonomi baru dalam satu dekade terakhir-karena sifat manusiawi yang lebih mementingkan profit. Menamakan ekonomi bangsa dengan “Ekonomi Kerakyatan.”  Namun, -pada esensinya-hanya merubah lagunya saja tapi tetap pada kaset yang sama.

          Beberapa tahun lalu dunia mengalami krisis, tepatnya menjelang 2009. Kapitalisme terjerembab dalam pusarannya. Di Amerika Serikat misalnya, seolah tak berdaya menghadapi tekanan sehingga menyebabkan mobilitas hutang kian menanjak tajam. Baru-baru ini dalam Global Competitiveness Survey(2015) yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEC) mencantumkan nama Amerika Serikat salah satu penghuni peringkat 10 besar  berdasarkan tingkat rasio hutang.

Begitu juga negara Balkan –dan juga Uni Eropa-  Yunani terciprat imbasanya. Uni Eropa seolah kalang kabut berusaha dengan keras melalui jalan korporasi. Dana talangan yang bersyarat misalnya, juga tak mampu menyelamatkan negeri para dewa. Lebih sakit lagi, wanita harus “Memurahkan” harga dirinya demi lezatnya sandwich. Orang tua harus tidur di depan bank demi secuil dana pensiun, dan usia produktif harus betah di rumah tanpa menghasilkan apa-apa menikmati imbas gelombang PHK.

Kepercayaan dunia seolah hilang pada kapitalisme, Kevin Rudd perdana mentri Australia dari partai buruh menulis essai: krisis yang menghantam dunia merupakan titik puncak “Neo-Liberalisme” yang berakhir dengan kegagalan.

Berbagai jalan tengah ditawarkan para ekonom, menyiapkan berbagai amunisi pemikiran. Seorang ekonom Inggris abad 20 John Maynard Keynes, pada tahun 1926 menulis The End of Laissez-faire mengenalkan paham ini –keynesianisme-, bahwa betapa produktifnya kapitalisme yang dikelola-yaitu pemerintah masuk kepada dunia yang dulunya daulat swasta.

          Keynesianismeakan membentuk kedinamisan, kesempatan, dan kompetisi. Sehingga adanya mobilitas ekonomi yang berkelanjutan. Yang mencemaskan ialah upaya memarjinalkan kewenangan pemerintah oleh kapitalis rakus, seperti Barack Obama yang masih disebut menjalankan “keynesianisme” dengan setengah hati.

          Atau di dalam negeri, yang kuat dengan agama. Menjual sistem ekonomi ala agama. Sebagai solusi terhadap kapitalisme. Wacana “Ekonomi Syari’ah” yang booming bersamaan dengan menjerembabnya kapitalisme, menjadi mimpi buruk bagi para borjuis kapitalis. Asas keadilan yang dibawa ekonomi syari’ah menjadi malaikat jibril bagi pengusaha tradisional dan korban penindasan kaum borjuis. Sifat unity, equilbrium, responsibility, menjadi dagangan manis bagi cendikiawan muslim untuk mempropagandakan ekonomi syari’ah.

          Pemerintah yang tak melek mata, menjadikan ekonomi syari’ah seperti halnya sebuah paradoks penuh dengan lakon anekdot. Bisa dilihat pada sektor rill, ekonomi syari’ah hanya berputar pada sektor swasta. Padahal kesuburan ekonomi syari’ah pada Maret 2015 mencapai 4,7%. Berangkat dari pendidikan ekonomi individu para pejabat yang notabene ahli kapitalisme, tidak mengherankan bila kurang sadarnya pemerintah akan potensi ekonomi syari’ah.

Itulah sebabnya, seorang ekonom dengan gelar akademis ekonomi syari’ah menjadi tumpuan perubahan ekonomi nasional bahkan dunia. Jangan hanya eksis pada sektor swasta tapi lakukankah gerakan pada roda pemerintahan. Eksistensi kalian akan menjadi penentu nasib sistem ekonomi -ala agama- ini kemana akan berjalan, tetap statis atau dinamis? Tuhan akan selalu memberkahi bagi hamba yang membantu agamanya hingga dikehendaki olehNya sesuatu yang menjadi happy ending. (fajar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.